Jumat, 23 September 2016

Mencintai Kekasih Teman

Ingatan gua terus berkelebat pada masa lalu di saat hujan masih belum juga reda. Lian masih duduk disisi gua kali ini dia memainkan handphone gua. Membuka game ular slither.io beberapa kali gua ajarkan sayang dia tidak berhasil jauh, lalu membuka game candy crush dan tidak juga menang. Akhirnya gua ambil handphone agar kami bisa berbicara bebas, agar kembali ke suasana cair lagi.

Malam terus berjalan, ada rasa berbeda memang dihati. Taman gua sudah lama kosong jika saja lian mau menyemainya dengan senang hati gua akan menyirami kemudian menjaganya agar tumbuh kembali bunga-bunga indah itu. Sayangnya gua sudah tak mampu lagi sekarang, entah suatu saat nanti?

Ingatan melayang jauh pada 5 tahun yang lalu ketika semakin hari lian, semakin akrab dengan satri. Tapi hati gua tidak pernah berbohong jika gua masih menyimpan hati untuknya. Gua malas menulis catatan, jika ada pelajaran yang diharuskan mencatat, gua lebih memilih untuk menggambar. Saat duduk dimeja sebelah lian, gua melihat wajah gadis sempurna itu lalu menggambarnya secara diam-diam. Maafkan gua satri jika gua masih menaruh hati padanya. Dilain kisah gua sedang mendekati seorang gadis gembul yang manja dan lucu. Dia tidak cantik tapi sangat menarik dimata gua.

Gua sudah tidak mungkin mendapatkan lian yang kini sudah semakin dekat dan hampir pasti menjadi kekasih satri. Gua harus melepas selurub perasaan ini, seluruhnya agar tidak merusak hubungan orang lain. Bagaimana ceritanya jika gua jatuh hati pada kekasih teman? Jika teman tahu maka akan rusak cerita yang kita punya. Gua harus cepat mengosongkan hati dari nama lian. Jangan biarkan namanya lama bersemayam dalam hati, gua takut terlalu dalam menyimpannya dan tidak lagi muncul ke permukaan.

"lu ngapain put?" Tiba-tiba lian mengagetkan gua dengan pertanyaannya, gua hampir menyelesaikan sketsa wajah lian, dia menyadarinya lalu menghampiri gua.

"Mm..  engga gua lagi gambar-gambar aja." Jantung gua berdetak lebih kencang dari biasanya. Kemudian dia mendekati gambar yang sudah selesai dimeja gua.

"Kok mirip gue sih?" Tanya lian.

"enggak kok, gua cuma iseng aja gambar-gambar kaya gini. Kebetulan aja kali mirip." Gua coba ngeles dari kebenaran.

"mirip gue, sini buat gue aja biar gue simpen buat kenang-kenangan." Dia berlalu dari hadapan gua, kembali ke mejanya. Gua melepas begitu saja gambar yang sudah gua buat untuk lian. Sayang engkau kekasih teman.

Hujan mulai reda, malam ini lian banyak bicara dia sudah sedikit berubah sejak masa SMK dulu yang kalem bahkan tergolong pendiam, bicara seperlunya saja tapi kini banyak hal yang dia ungkapkan. Apa semua karena pergaulan serta lingkungan yang merubah dia.

"cowo lu ga diajak kesini biar ngobrol kita disini. Biar kenalan." Gua mencandai lian, lumayan malam ini gua melihat banyak tawa terlempar lepas dari wajah penatnya.

"Iya nanti gua ajak." jawabnya singkat sambil tersenyum.

"Iya kalau dia sampai sini mau gua tanyain kapan putus?" Gua menggoda dia agar sedikit kesal. Dia malah tertawa, dia selalu seperti ini. Menyenangkan. Setelah itu senyap, gua memandang jauh keluar counter hanya ada jalanan yang mulai sepi ditelan malam.

Perlahan gua mencintai amel, gadis gembul yang perlahan menjelma jadi seseorang paling penting dalam hidup gua, sayangnya dia sudah memiliki kekasih. Kami jadi sahabat baik bahkan sangat dekat, banyak waktu kami habiskan bersama. Tapi rangkumannya masih sama, gua masih seorang single tanpa pendamping. Padahal gua sangat ingin memiliki kekasih hanya saja gua minder, siapalah gua? Hanya seorang anak yang masih numpang tinggal di asrama nyambi kerja, gaji hanya cukup untuk bayar bulanan sekolah lalu sisanya untuk belanja sabun cuci, serta perlengkapan mandi saja masih kurang.

Semua teman dekat gua memiliki pacar setiap pulang sekolah, kami duduk bersama di halaman sekolah atau kantin dimana saja dengan pacar masing-masing kecuali gua yang hanya menyaksikan mereka asyik berdua-duaan. Beberapa moment gua berada diantara lian dan satri. Pernah kala itu hujan turun deras gua, satri, dan lian sedang bersama. Kemudian lian tiba-tiba meminjam jaket gua bukan jaket satri gua hanya menganggap jika itu hal yang wajar. Gua juga pernah bersama satri mengantar lian pulang, ketika turun dari angkot hujan deras turun kami basah kuyup dibuatnya. Ketika selesai mengantar sampai rumah lian, kami langsung kembali pulang namun tidak satupun angkot yang mau menerima kami, jadilah gua dan satri jalan kaki dari cawang atas sampai ke otista dengan pakaian kuyup.

Sempat juga suatu ketika lian melihat sebuah buku yang gua baca, dia langsung meminjamnya lalu dibawa pulang. Dia juga pernah berpura-pura bertanya tentang pelajaran matematika yang sebenarnya dia tahu jika gua tidak mengerti tentang pelajaran itu. Banyak moment bersama lian yang gua kenang, sampai saat yang tidak pernah gua sangka datang. Pada kisah ini satri dan lian menyelesaikan hubungan mereka, gua tidak mengerti cinta sebenarnya seperti apa? gua juga tidak paham tentang cinta yang mereka rasakan karena hati gua sudah kapalan sehingga mati rasa. Kalaupun ada rasa hanya rasa ingin mencoba apa itu cinta! Ketika menyukai seseorang lalu ingin memiliki seperti beberapa kali gua rasakan mungkinkah itu cinta?

Setelah hubungan mereka selesai, gua masih tidak terfikir untuk memiliki lian. Dia masih terlampau cantik lalu siapalah gua? Masih seorang santri yang mengabdi dengan gaji untuk bayaran sekolah. Gua tidak bisa menghadiahkan coklat mewah seperti yang lainnya. Itulah mengapa gua tetap sendiri, gua tidak punya apapun untuk memberikan kebahagiaan kepada pasangan gua seperti layaknya laki-laki lain.

Keterlambatan gua bukan hanya karena kemelaratan gua tapi juga karena lian mantan kekasih sahabat gua apa yang akan terjadi jika gua memaksakan diri untuk memilikinya? Persahabatan gua akan berantakan nantinya. Keterlambatan itu berakibat fatal, lian dipetik lagi oleh orang lain kali ini, oleh sahabat sekelas gua yang berhasil memenangkan hatinya. Iwan menjadi pria beruntung karena berhasil mengisi sisi kosong pada ruang hati lian yang hancur setelah hubungannya dengan satri berakhir karena sebuah masalah yang gua tidak tahu, yang pasti ada kekesalan dihati satri saat itu. Dan gua gagal lagi tembok ini akan jadi terlalu tinggi untuk gua menggapai lian, dua sahabat yang harus gua panjat untuk sampai pada lian ini terlalu tinggi jika jatuh semua akan rusak sekejap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar