Selasa, 04 Oktober 2016

Tegar

Beberapa tahun yang lalu saat semua suasana sudah terasa normal, gua sudah bisa membiasakan diri untuk tidak mencintai siapapun. Secara tiba-tiba Lian sempat menjodohkan gua dengan salah seorang temannya. Saat itu gua sedang asyik dengan dunia sendiri, dunia futsal yang membuat gua terkurung lupa segalanya. Jadi urusan wanita tidak terlalu gua ambil pusing yang penting bersenang-senang, itu yang terbersit dikepala.

"Putra mau ga dikenalin sama teman Lian, cantik, baik, Sholehah lagi." Lian mempromosikan seorang temannya. Gua sedang asyik menikmati masa kesendirian,

"Gua ga Sholeh dan belum tentu baik, takutnya dia kecewa." Gua coba menolak pada ada juga penasaran dengan gadis yang ingin Lian ingin kenalkan. Gua coba stalking via Facebook rupa gadis sahabat Lian itu lalu gua menyesali ternyata memang benar cantik, tinggi, cara berpakaiannya Islami sekali. Selain gadis itu, Lian juga dia sempat mengenalkan gua dengan adiknya Lisa yang dia bilang penasaran ingin berjumpa dengan gua, karena hanya sekali melihat foto yang Lian ambil secara diam-diam. Saat itu Lisa masih unyu-unyu dia masih kelas 1 SMP, gua dikelas 1 SMA.

Tetapi semua perkenalan itu termentahkan saat sms Lian datang menyatakan cinta. Sejak itu gua merasa ada peluang untuk memilikinya, gua tidak ingin terlambat lagi. Tapi kenyataan itu tidak sama dengan apa yang dibayangkan, seperti dalam kepala gua terselip sebuah keyakinan jika Lian dan gua mudah saja menyatu, dia akan meninggalkan yang lain untuk gua. Tapi kenyataan berjalan tidak begitu, siapa yang tahu tentang besok?

Setiap ada kesempatan gua selalu menyempatkan diri untuk bertukar kabar dengan Lian, gua tahu gua salah. Bukan hanya salah mendekati kekasih orang tapi salah karena sudah melanggar ajaran agama yang selama ini gua pelajari. Gua menyadari itu tapi gua lemah masalah hati. Jika ada kesempatan gua pergi menjemput Lian, kami makan malam atau sekedar duduk bersama dengan banyak cerita.

"Memangnya Iwan gatau kalau kita ketemuan?" Gua bertanya pada Lian setiap kali bersama.

"Tau kok," ringan saja jawabannya. Bagaimana perasaan Iwan? Gua tidak mengerti tapi gua terlalu bodoh, hati gua sudah kapalan sehingga mati rasa. Ini jelas bukan cinta hanya sebuah rasa ingin memiliki, cinta itu dulu sudah lama sekali.

"Terus?" Gua seperti meminta kepastian, gua mengemis rasa padanya.

"Terus apa?" Sambil melemparkan senyum manis, padahal gua benar-benar serius.

"Terus gua gimana? kita?" Gua butuh sebuah kejelasan disini.

"Dulu gue emang suka sama lo," Lian membuka kisah,

"Sekarang enggak?" Gua memotong

"Kalau ketemu terus liat lo kaya masih deg-degan gitu, mungkin masih suka. Tapi kalau ketemu doang." Gua sadar betul ternyata Lian memang tidak akan memilih gua. Kalian pasti tahu rasanya jika sudah basah apa yang harus dilakukan? Lanjutkan saja berenangnya. Gua memaksakan perasaan ini yang sebenarnya bukan cinta, cuma rasa kecewa karena tidak terpilih. Gua selalu ingin jadi yang terbaik, hampir selalu sejak kecil gua dapati hasil terbaik. Pujian terbaik jadi ketika gagal gua tidak bisa menerimanya.

"Jadi enggak milih gua nih?" Gua bertanya lagi untuk memastikan.

"Enggak gitu gimana ya? Mama Gue enggak ngerestuin kalau gue sama iwan." Matanya berkerling ke sekeliling buat gua ragu.

"Kenapa?" Tidak ada jawaban setelah pertanyaan ini, gua selalu membawa dia ke warung pojok tempat biasa gua dan teman-teman berkumpul. Disini rasanya nyaman dan tenang. Lian selalu akan mengalihkan pembicaraan setiap kali gua ingin tahu penyebabnya hubungan yang tidak direstui mamanya.

Setiap hari gua berada didepan komputer sejak pukul 06:00 sampai jam 5 sore, karena setelah subuh gua harus membersihkan kantor asrama agar nyaman saat ada tamu yang datang berkunjung untuk menjenguk anaknya atau donatur yang ingin memberikan dana bagi bantuan untuk biaya sekolah anak-anak yang tidak mampu di asrama ini.

Pekerjaan lainnya jika ada surat atau proposal kegiatan yang harus dibuat maka gua akan diperintahkan untuk mengetik atau yang lainnya. Sambil mengerjakannya gua selalu menyempatkan bermain Facebook, menulis kata-kata mutiara yang puitis karena gua begitu mencintai puisi dengan kata-kata indahnya yang romantis. Ada satu akun baru yang meminta pertemanan, dengan nama Lis Sunandar, seperti biasa gua langsung meng-accept.

'hai putra?' Chat kami dimulai,

'maaf ini siapa ya?' gua balik bertanya, gua tidak kenal dengan akun baru tersebut,

'Ini mamanya Lian dan Lisa.' balasannya buat gua kaget,

'maaf ibu, assalamualaikum aku kirain siapa ternyata ibu Lian.' gua jadi salah tingkah meski tidak berjumpa langsung,

'waalaikumsalam, iya gapapa. Katanya kamu sering jalan sama anak-anak mama ya?' Ada apa ini? Kenapa langsung pada pertanyaan ini?

'iya ibu. Ada apa ya Bu?' gua bertanya balik sambil terbersit tanya didada.

'sebenarnya putra mau sama anak ibu yang mana?' apa benar ini akun Mamanya Lisa dan Lian? Gua jadi sedikit ragu dengan pertanyaan ini tapi ada rasa senang tidak terkira karena diberi sebuah pilihan. Ini seperti jadi lampu hijau untuk gua, semuanya akan berjalan baik begitu suara hati gua berbisik.

'enggak sama yang mana-mana Bu, kami cuma teman aja. Kalau lagi ada kesempatan aja jalan sambil cerita-cerita. cuma gitu aja kok bu.' Hei, gua diberi pilihan, ini gila bukan mamanya sendiri yang memberikan pilihan. Tapi gua menghilangkan kesenangan ini karena masih berpikir jika akun tersebut belum tentu benar-benar mamanya Lian dan Lisa.

'oh gitu, putra ada nomor HP?' gua memberikan nomor hp pada mamanya Lian. Setelah itu sempat beberapa kali kami berkirim pesan via Facebook lalu menghilang begitu saja satu sama lain.

Handphone gua berdering, mamanya Lian ada apa ya? Gua agak grogi ingin mengangkatnya,

"halo, assalamualaikum ada apa ibu?" dengan lembut sebisa mungkin gua bertanya,

"Lian lagi jalan sama putra ya?" Mata gua melihat keluar jendela kantor, mencerna kembali pertanyaan Mama Lian. Tidak ada Lian disini, gua harus jawab apa? Kalau gua bilang tidak, gua memang jujur tapi Lian akan kena marah mamanya karena berbohong jalan sama gua, tapi siapa tahu dia memang ingin jalan sama gua cuma belum sampai. Ini tidak biasanya, Lian selalu memberi kabar jika ingin mengajak gua pergi. Kalau gua bilang iya, gua berbohong saat kebohongan ini diketahui maka hilang sudah kepercayaan Mama Lian pada gua.

"Iya Bu, ada apa ya bu?" Gua bertanya balik pada Mama Lian, gua ingin menjaga Lian agar tidak kena marah mamanya. Biarlah gua berbohong kali ini.

"Enggak apa-apa put, tadi ijinnya mau keluar sama Putra. Takutnya perginya bukan sama Putra, soalnya nomornya di telepon ga diangkat-angkat." Ada yang tidak beres rasanya mendengar kalimat ini, setelah basa-basi sesaat telepon terputus.

Mata gua kembali memandang jauh ke jalanan memperhatikan kendaraan yang lalu lalang satu persatu didepan kantor asrama. Kemana Lian? Kenapa dia ijin pergi dengan gua tapi tidak bersama gua sekarang. Gua menekan nomor Lian,

"Halo Lian dimana?"

"Gue lagi di kalibata kenapa put?" Nada suara yang khas yang lembut terdengar diseberang sana,

"Enggak apa-apa gua susul ya?" Gua ingin buat kebohongan gua tadi jadi seperti nyata dengan mengantar Lian pulang, membuat mamanya percaya jika Lian benar pergi bersama gua.

"Enggak usah put. Gue lagi nunggu Iwan, mau beliin dia kado ulang tahun. Ini gue udah beli kue, nah kalau dia Dateng nanti mau gua beliin baju bola tapi gue gapaham jadi tunggu orangnya aja." Petir siang hari ini begitu panas, Lian menggunakan nama gua untuk mendapatkan ijin keluar. Jadi gua ini siapa sebenarnya? Nampaknya cuma kunci untuk keluar masuk rumahnya saja. Gua tidak marah tapi ada kecewa yang jelas menghantam sisi hati gua. Tapi biarlah, gua juga bukan siapa-siapa dalam cerita Lian, tidak jadi masalah!

"Oh gitu, iya keren tuh. Cowo kalau dibeliin baju bola pasti seneng. Ya udah deh." Gua berusaha jadi laki-laki, gau tegar iya gua tegar dalam kebohongan.

"Maaf ya put." Terdengar lagi suara diseberang sana.

"Iya gapapa Lian, titip salam selamat ulang tahun ya ke Iwan." Gua masih bergemuruh didalam tapi tetap tegar dalam melepaskan kata-kata. Siapa gua ini?