Perasaan suka cepat berubah tidak seperti edelweis yang abadi. Maka perasaan itu harus dialihkan pada kesibukan lain, perlahan dia akan mulai hilang juga lupa. Cari sesuatu yang menyenangkan agar terhindar dari rasa-rasa yang terus menepuk-nepuk dada agar menyimpan dan mengingatnya selalu.
Sudah hampir 3 tahun gua tidak lagi mengusik kehidupan Lian, melupakan perasaan gua yang sempat terbentuk di awal pertemuan. Seringkali gua melihat Lian dalam tangis mengarungi percintaannya, hanya tersisip rasa tidak tega tanpa bumbu-bumbu rasa cinta. Dia kekasih sahabat, jadi kita hanya akan menjadi teman. Kelulusan yang sudah berlalu setahun yang lalu, membuat gua kehilangan banyak teman. Ada teman yang masuk ke perguruan tinggi melanjutkan menuntut ilmu, banyak juga yang langsung melamar kerja menjadikan mereka masuk dalam dunia dewasa lebih cepat. Pada dunia kerja mereka dilatih untuk bertanggung jawab menghidupi diri sendiri, gua mengagumi itu.
Gua masih terkungkung di asrama membantu pekerjaan kantor pesantren yang bisa gua kerjakan. Disini gua lebih banyak ditugaskan sebagai OB, blnyapu-ngepel kantor pesantren, beli makan siang, menyiapkan kebutuhan kantor, dan lain-lain. Setiap tiga bulan sekali kami di rolling terkadang gua dapat bagian membersihkan kamar mandi santri, bagian dapur masak nasi satu panci besar, mencuci piring, membersihkan ruang makan santri, atau menyapu halaman asrama yang luasnya jika ditotal sama dengan satu lapangan bola kaki.
Pekerjaan tadi sudah biasa gua kerjakan sejak masa SMK, jadi mengerjakannya saat ini tidak masalah. Hari gua jadi sedikit sepi setelah masa sekolah berlalu, jika dulu masih ada kesempatan untuk berjumpa kawan-kawan lalu ketawa dan menghabiskan waktu bersama kini semua hanya masa lalu mereka sibuk dengan hidup masing-masing lalu gua merasa kehilangan.
Pernah pada suatu hari yang sepi, gua merasa sangat kesepian dan butuh refresing. Sejak malam gua berpikir jika besok ingin pergi ke Blok M Square nonton bioskop tapi Tak ada teman. Kebetulan gua mengingat seseorang, ya gadis itu sepertinya cocok menemani hari sepi gua. Beberapa waktu lalu gua mulai akrab dengan Lisa, dia baru lulus SMP dan masuk ke SMK yang sama dengan gua.
'Lisa kakak mau ajak kamu jalan. Kamu mau enggak nemenin?' Malam gua langsung coba menawarinya.
'kemana kak?' balasnya via sms. Hp esia jadul sudah gua gunakan sejak masa SMK walau ada peringatan keras dari pesantren untuk tidak menggunakan handphone tapi jiwa muda memang hobi melanggar aturan.
'Nonton aja yuk, kemana gitu. Kakak pengennya sih ke blok M. Gimana?'
'Boleh kak. Ya udah jam berapa besok?' kami sepakat dengan waktu dan tempat pertemuan.
Gadis manis dengan wajah lucu Lisa, gua hanya ingin pergi bersamanya. Gua tidak bisa jatuh cinta padanya, walau ingin memiliki. Rasa minder dan rendah diri buat gua tidak pernah bisa jadikan gua seperti anak muda lainnya. Bebas bergaul dan mengekspresikan diri, bukan siapa-siapa menjadi alasan kenapa gua tidak memiliki apa-apa dan tidak menjadi apa-apa.
Setelah pergi kemarin gua sedikit tenang dengan menceritakan banyak hal yang menjadikan gua kesepian dalam kesendirian kepada Lisa. Bukan Lisa yang ingin gua sebutkan dalam kisah ini tapi masih tentang Lian. Waktu mulai beranjak seperti biasa setelah mandi pagi pukul 09:00, suara pesan terdengar dari handphone esia butut gua.
'maaf putra kalau gue lancang, tapi kalau gue enggak mengatakan ini ada yang kurang dalam hidup gue. Sebenarnya sejak pertama kita ketemu gue udah suka sama Lo. Tapi Lo nya Enggak sadar. Tapi sekarang gua udah berani ngomong ke Lo. terserah gimana tanggapan Lo ketika dapat pesan ini yang penting gue udah lega karena udah bilang apa yang selama ini tersimpan dalam hati gue. Terimakasih put, maaf kalau gue lancang' Apa benar yang mengirim pesan ini dia? Sulit percaya rasanya tapi nama yang tertera benar dia, Lian! ini nomor Lian.
'Ini Lian beneran yang sms atau siapa?' Gua balas pesan masuk tadi, rasanya seperti mimpi jika memang Lian yang mengirim pesan. Sudah lama, sudah lama sekali kami tidak saling berkirim pesan apalagi bicara. Setiap berjumpa hanya saling menatap tanpa berkata-kata, gua juga tidak mampu mengartikan tatap-tatapan yang datang. Kekasih teman bagaimana mungkin mengatakan hal ini.
'kalau ga percaya coba aja telpon put.' Balasnya lagi, seketika gua langsung menekan tombol telepon.
"Iya halo, putra masih ga percaya kalau Lian yang sms?" Tanya dia dari seberang sana. Tubuh gua bergetar mendengarnya. Suaranya ini buat gua diam tak bersuara, gua ingin menikmati kebodohan ini dulu.
"Lian masih pacaran sama iwan kan?" Tanya gua setelah diam beberapa waktu.
"Masih memangnya kenapa?" Dia bertanya balik. Tidak etis saja jika gua harus mengatakan jika sejak dulu gua juga menyukainya. Lian masih kekasih sahabat gua.
"Enggak apa-apa. Dulu kenapa ga bilang kalau suka?" Gua bertanya lagi, rasanya masih seperti sedang melayang diantara angin-angin senja yang tersisa.
"Lian kan cewe masa Lian duluan yang ngomong. Padahal dulukan Lian sering kasih kode cuma putranya aja ga ngerti. Aturan cowo yang ngomong." Mimpi macam apa ini gua masih belum juga mempercayainya. Kalau memang mimpi tolong bangunkan ya Tuhan...
"Jangan bercanda ah, ini siapa? Gua masih ga percaya." Gua kembali mengintrogasi.
"Ini Lian, Putra! Inget ga dulu putra pernah buatin gambar yang mirip sama Lian. Lian ambil, Lian simpen sampai hari ini masih ada dikamar. Lisa juga cerita banyak tentang Putra, kemarin kalian jalankan ke blok M? Ngapain hayoo." Iya gua lupa mengatakan jika Lisa adalah adik kandung Lian, kami berkenalan saat Lian dan Satri nonton bioskop mengajak Lisa yang tidak memiliki pasangan jadilah Satri mengajak gua untuk menemani Lisa. Sampai hari ini kami masih berhubungan.
"Iya kok masih Lian simpan? Gambarnya kan gabagus-bagus banget." Gua merendah
"Iya tapi Lian suka banget." Jawabnya
"Sama gambarnya apa orang yang gambarnya?" Gua coba memancing Lian.
"Sama dua-duanya." Hati gua terpanah lagi dan lagi. Setelah hari itu kami sering berkirim pesan, ini tidak baik. Ini jelas salah, gua menyadari tapi cinta pertama itu tidak bisa dilupakan, bukan begitu? Sejak pertama memandang gua sudah jatuh hati, bagaimana perasaan Iwan jika mengetahui semua ini? Gua sendiri jika pada posisi Iwan jelas akan marah. Gua ingin menjauhi semua ini tapi gua sangat menikmatinya, gua terjebak! Sial!
BERSAMBUNG.....