Jumat, 30 September 2016

Terjebak Pada Cinta Bodoh!

Perasaan suka cepat berubah tidak seperti edelweis yang abadi. Maka perasaan itu harus dialihkan pada kesibukan lain, perlahan dia akan mulai hilang juga lupa. Cari sesuatu yang menyenangkan agar terhindar dari rasa-rasa yang terus menepuk-nepuk dada agar menyimpan dan mengingatnya selalu.

Sudah hampir 3 tahun gua tidak lagi mengusik kehidupan Lian, melupakan perasaan gua yang sempat terbentuk di awal pertemuan. Seringkali gua melihat Lian dalam tangis mengarungi percintaannya, hanya tersisip rasa tidak tega tanpa bumbu-bumbu rasa cinta. Dia kekasih sahabat, jadi kita hanya akan menjadi teman. Kelulusan yang sudah berlalu setahun yang lalu, membuat gua kehilangan banyak teman. Ada teman yang masuk ke perguruan tinggi melanjutkan menuntut ilmu, banyak juga yang langsung melamar kerja menjadikan mereka masuk dalam dunia dewasa lebih cepat. Pada dunia kerja mereka dilatih untuk bertanggung jawab menghidupi diri sendiri, gua mengagumi itu.

Gua masih terkungkung di asrama membantu pekerjaan kantor pesantren yang bisa gua kerjakan. Disini gua lebih banyak ditugaskan sebagai OB, blnyapu-ngepel kantor pesantren, beli makan siang, menyiapkan kebutuhan kantor, dan lain-lain. Setiap tiga bulan sekali kami di rolling terkadang gua dapat bagian membersihkan kamar mandi santri, bagian dapur masak nasi satu panci besar, mencuci piring, membersihkan ruang makan santri, atau menyapu halaman asrama yang luasnya jika ditotal sama dengan satu lapangan bola kaki.

Pekerjaan tadi sudah biasa gua kerjakan sejak masa SMK, jadi mengerjakannya saat ini tidak masalah. Hari gua jadi sedikit sepi setelah masa sekolah berlalu, jika dulu masih ada kesempatan untuk berjumpa kawan-kawan lalu ketawa dan menghabiskan waktu bersama kini semua hanya masa lalu mereka sibuk dengan hidup masing-masing lalu gua merasa kehilangan.

Pernah pada suatu hari yang sepi, gua merasa sangat kesepian dan butuh refresing. Sejak malam gua berpikir jika besok ingin pergi ke Blok M Square nonton bioskop tapi Tak ada teman. Kebetulan gua mengingat seseorang, ya gadis itu sepertinya cocok menemani hari sepi gua. Beberapa waktu lalu gua mulai akrab dengan Lisa, dia baru lulus SMP dan masuk ke SMK yang sama dengan gua.

'Lisa kakak mau ajak kamu jalan. Kamu mau enggak nemenin?' Malam gua langsung coba menawarinya.

'kemana kak?' balasnya via sms. Hp esia jadul sudah gua gunakan sejak masa SMK walau ada peringatan keras dari pesantren untuk tidak menggunakan handphone tapi jiwa muda memang hobi melanggar aturan.

'Nonton aja yuk, kemana gitu. Kakak pengennya sih ke blok M. Gimana?'

'Boleh kak. Ya udah jam berapa besok?' kami sepakat dengan waktu dan tempat pertemuan.

Gadis manis dengan wajah lucu Lisa, gua hanya ingin pergi bersamanya. Gua tidak bisa jatuh cinta padanya, walau ingin memiliki. Rasa minder dan rendah diri buat gua tidak pernah bisa jadikan gua seperti anak muda lainnya. Bebas bergaul dan mengekspresikan diri, bukan siapa-siapa menjadi alasan kenapa gua tidak memiliki apa-apa dan tidak menjadi apa-apa.

Setelah pergi kemarin gua sedikit tenang dengan menceritakan banyak hal yang menjadikan gua kesepian dalam kesendirian kepada Lisa. Bukan Lisa yang ingin gua sebutkan dalam kisah ini tapi masih tentang Lian. Waktu mulai beranjak seperti biasa setelah mandi pagi pukul 09:00, suara pesan terdengar dari handphone esia butut gua.

'maaf putra kalau gue lancang, tapi kalau gue enggak mengatakan ini ada yang kurang dalam hidup gue. Sebenarnya sejak pertama kita ketemu gue udah suka sama Lo. Tapi Lo nya Enggak sadar. Tapi sekarang gua udah berani ngomong ke Lo. terserah gimana tanggapan Lo ketika dapat pesan ini yang penting gue udah lega karena udah bilang apa yang selama ini tersimpan dalam hati gue. Terimakasih put, maaf kalau gue lancang' Apa benar yang mengirim pesan ini dia? Sulit percaya rasanya tapi nama yang tertera benar dia, Lian! ini nomor Lian.

'Ini Lian beneran yang sms atau siapa?' Gua balas pesan masuk tadi, rasanya seperti mimpi jika memang Lian yang mengirim pesan. Sudah lama, sudah lama sekali kami tidak saling berkirim pesan apalagi bicara. Setiap berjumpa hanya saling menatap tanpa berkata-kata, gua juga tidak mampu mengartikan tatap-tatapan yang datang. Kekasih teman bagaimana mungkin mengatakan hal ini.

'kalau ga percaya coba aja telpon put.' Balasnya lagi, seketika gua langsung menekan tombol telepon.

"Iya halo, putra masih ga percaya kalau Lian yang sms?" Tanya dia dari seberang sana. Tubuh gua bergetar mendengarnya. Suaranya ini buat gua diam tak bersuara, gua ingin menikmati kebodohan ini dulu.

"Lian masih pacaran sama iwan kan?" Tanya gua setelah diam beberapa waktu.

"Masih memangnya kenapa?" Dia bertanya balik. Tidak etis saja jika gua harus mengatakan jika sejak dulu gua juga menyukainya. Lian masih kekasih sahabat gua.

"Enggak apa-apa. Dulu kenapa ga bilang kalau suka?" Gua bertanya lagi, rasanya masih seperti sedang melayang diantara angin-angin senja yang tersisa.

"Lian kan cewe masa Lian duluan yang ngomong. Padahal dulukan Lian sering kasih kode cuma putranya aja ga ngerti. Aturan cowo yang ngomong." Mimpi macam apa ini gua masih belum juga mempercayainya. Kalau memang mimpi tolong bangunkan ya Tuhan...

"Jangan bercanda ah, ini siapa? Gua masih ga percaya." Gua kembali mengintrogasi.

"Ini Lian, Putra! Inget ga dulu putra pernah buatin gambar yang mirip sama Lian. Lian ambil, Lian simpen sampai hari ini masih ada dikamar. Lisa juga cerita banyak tentang Putra, kemarin kalian jalankan ke blok M? Ngapain hayoo." Iya gua lupa mengatakan jika Lisa adalah adik kandung Lian, kami berkenalan saat Lian dan Satri nonton bioskop mengajak Lisa yang tidak memiliki pasangan jadilah Satri mengajak gua untuk menemani Lisa. Sampai hari ini kami masih berhubungan.

"Iya kok masih Lian simpan? Gambarnya kan gabagus-bagus banget." Gua merendah

"Iya tapi Lian suka banget." Jawabnya

"Sama gambarnya apa orang yang gambarnya?" Gua coba memancing Lian.

"Sama dua-duanya." Hati gua terpanah lagi dan lagi. Setelah hari itu kami sering berkirim pesan, ini tidak baik. Ini jelas salah, gua menyadari tapi cinta pertama itu tidak bisa dilupakan, bukan begitu? Sejak pertama memandang gua sudah jatuh hati, bagaimana perasaan Iwan jika mengetahui semua ini? Gua sendiri jika pada posisi Iwan jelas akan marah. Gua ingin menjauhi semua ini tapi gua sangat menikmatinya, gua terjebak! Sial!

BERSAMBUNG.....

Jumat, 23 September 2016

Mencintai Kekasih Teman

Ingatan gua terus berkelebat pada masa lalu di saat hujan masih belum juga reda. Lian masih duduk disisi gua kali ini dia memainkan handphone gua. Membuka game ular slither.io beberapa kali gua ajarkan sayang dia tidak berhasil jauh, lalu membuka game candy crush dan tidak juga menang. Akhirnya gua ambil handphone agar kami bisa berbicara bebas, agar kembali ke suasana cair lagi.

Malam terus berjalan, ada rasa berbeda memang dihati. Taman gua sudah lama kosong jika saja lian mau menyemainya dengan senang hati gua akan menyirami kemudian menjaganya agar tumbuh kembali bunga-bunga indah itu. Sayangnya gua sudah tak mampu lagi sekarang, entah suatu saat nanti?

Ingatan melayang jauh pada 5 tahun yang lalu ketika semakin hari lian, semakin akrab dengan satri. Tapi hati gua tidak pernah berbohong jika gua masih menyimpan hati untuknya. Gua malas menulis catatan, jika ada pelajaran yang diharuskan mencatat, gua lebih memilih untuk menggambar. Saat duduk dimeja sebelah lian, gua melihat wajah gadis sempurna itu lalu menggambarnya secara diam-diam. Maafkan gua satri jika gua masih menaruh hati padanya. Dilain kisah gua sedang mendekati seorang gadis gembul yang manja dan lucu. Dia tidak cantik tapi sangat menarik dimata gua.

Gua sudah tidak mungkin mendapatkan lian yang kini sudah semakin dekat dan hampir pasti menjadi kekasih satri. Gua harus melepas selurub perasaan ini, seluruhnya agar tidak merusak hubungan orang lain. Bagaimana ceritanya jika gua jatuh hati pada kekasih teman? Jika teman tahu maka akan rusak cerita yang kita punya. Gua harus cepat mengosongkan hati dari nama lian. Jangan biarkan namanya lama bersemayam dalam hati, gua takut terlalu dalam menyimpannya dan tidak lagi muncul ke permukaan.

"lu ngapain put?" Tiba-tiba lian mengagetkan gua dengan pertanyaannya, gua hampir menyelesaikan sketsa wajah lian, dia menyadarinya lalu menghampiri gua.

"Mm..  engga gua lagi gambar-gambar aja." Jantung gua berdetak lebih kencang dari biasanya. Kemudian dia mendekati gambar yang sudah selesai dimeja gua.

"Kok mirip gue sih?" Tanya lian.

"enggak kok, gua cuma iseng aja gambar-gambar kaya gini. Kebetulan aja kali mirip." Gua coba ngeles dari kebenaran.

"mirip gue, sini buat gue aja biar gue simpen buat kenang-kenangan." Dia berlalu dari hadapan gua, kembali ke mejanya. Gua melepas begitu saja gambar yang sudah gua buat untuk lian. Sayang engkau kekasih teman.

Hujan mulai reda, malam ini lian banyak bicara dia sudah sedikit berubah sejak masa SMK dulu yang kalem bahkan tergolong pendiam, bicara seperlunya saja tapi kini banyak hal yang dia ungkapkan. Apa semua karena pergaulan serta lingkungan yang merubah dia.

"cowo lu ga diajak kesini biar ngobrol kita disini. Biar kenalan." Gua mencandai lian, lumayan malam ini gua melihat banyak tawa terlempar lepas dari wajah penatnya.

"Iya nanti gua ajak." jawabnya singkat sambil tersenyum.

"Iya kalau dia sampai sini mau gua tanyain kapan putus?" Gua menggoda dia agar sedikit kesal. Dia malah tertawa, dia selalu seperti ini. Menyenangkan. Setelah itu senyap, gua memandang jauh keluar counter hanya ada jalanan yang mulai sepi ditelan malam.

Perlahan gua mencintai amel, gadis gembul yang perlahan menjelma jadi seseorang paling penting dalam hidup gua, sayangnya dia sudah memiliki kekasih. Kami jadi sahabat baik bahkan sangat dekat, banyak waktu kami habiskan bersama. Tapi rangkumannya masih sama, gua masih seorang single tanpa pendamping. Padahal gua sangat ingin memiliki kekasih hanya saja gua minder, siapalah gua? Hanya seorang anak yang masih numpang tinggal di asrama nyambi kerja, gaji hanya cukup untuk bayar bulanan sekolah lalu sisanya untuk belanja sabun cuci, serta perlengkapan mandi saja masih kurang.

Semua teman dekat gua memiliki pacar setiap pulang sekolah, kami duduk bersama di halaman sekolah atau kantin dimana saja dengan pacar masing-masing kecuali gua yang hanya menyaksikan mereka asyik berdua-duaan. Beberapa moment gua berada diantara lian dan satri. Pernah kala itu hujan turun deras gua, satri, dan lian sedang bersama. Kemudian lian tiba-tiba meminjam jaket gua bukan jaket satri gua hanya menganggap jika itu hal yang wajar. Gua juga pernah bersama satri mengantar lian pulang, ketika turun dari angkot hujan deras turun kami basah kuyup dibuatnya. Ketika selesai mengantar sampai rumah lian, kami langsung kembali pulang namun tidak satupun angkot yang mau menerima kami, jadilah gua dan satri jalan kaki dari cawang atas sampai ke otista dengan pakaian kuyup.

Sempat juga suatu ketika lian melihat sebuah buku yang gua baca, dia langsung meminjamnya lalu dibawa pulang. Dia juga pernah berpura-pura bertanya tentang pelajaran matematika yang sebenarnya dia tahu jika gua tidak mengerti tentang pelajaran itu. Banyak moment bersama lian yang gua kenang, sampai saat yang tidak pernah gua sangka datang. Pada kisah ini satri dan lian menyelesaikan hubungan mereka, gua tidak mengerti cinta sebenarnya seperti apa? gua juga tidak paham tentang cinta yang mereka rasakan karena hati gua sudah kapalan sehingga mati rasa. Kalaupun ada rasa hanya rasa ingin mencoba apa itu cinta! Ketika menyukai seseorang lalu ingin memiliki seperti beberapa kali gua rasakan mungkinkah itu cinta?

Setelah hubungan mereka selesai, gua masih tidak terfikir untuk memiliki lian. Dia masih terlampau cantik lalu siapalah gua? Masih seorang santri yang mengabdi dengan gaji untuk bayaran sekolah. Gua tidak bisa menghadiahkan coklat mewah seperti yang lainnya. Itulah mengapa gua tetap sendiri, gua tidak punya apapun untuk memberikan kebahagiaan kepada pasangan gua seperti layaknya laki-laki lain.

Keterlambatan gua bukan hanya karena kemelaratan gua tapi juga karena lian mantan kekasih sahabat gua apa yang akan terjadi jika gua memaksakan diri untuk memilikinya? Persahabatan gua akan berantakan nantinya. Keterlambatan itu berakibat fatal, lian dipetik lagi oleh orang lain kali ini, oleh sahabat sekelas gua yang berhasil memenangkan hatinya. Iwan menjadi pria beruntung karena berhasil mengisi sisi kosong pada ruang hati lian yang hancur setelah hubungannya dengan satri berakhir karena sebuah masalah yang gua tidak tahu, yang pasti ada kekesalan dihati satri saat itu. Dan gua gagal lagi tembok ini akan jadi terlalu tinggi untuk gua menggapai lian, dua sahabat yang harus gua panjat untuk sampai pada lian ini terlalu tinggi jika jatuh semua akan rusak sekejap.