Selasa, 04 Oktober 2016

Tegar

Beberapa tahun yang lalu saat semua suasana sudah terasa normal, gua sudah bisa membiasakan diri untuk tidak mencintai siapapun. Secara tiba-tiba Lian sempat menjodohkan gua dengan salah seorang temannya. Saat itu gua sedang asyik dengan dunia sendiri, dunia futsal yang membuat gua terkurung lupa segalanya. Jadi urusan wanita tidak terlalu gua ambil pusing yang penting bersenang-senang, itu yang terbersit dikepala.

"Putra mau ga dikenalin sama teman Lian, cantik, baik, Sholehah lagi." Lian mempromosikan seorang temannya. Gua sedang asyik menikmati masa kesendirian,

"Gua ga Sholeh dan belum tentu baik, takutnya dia kecewa." Gua coba menolak pada ada juga penasaran dengan gadis yang ingin Lian ingin kenalkan. Gua coba stalking via Facebook rupa gadis sahabat Lian itu lalu gua menyesali ternyata memang benar cantik, tinggi, cara berpakaiannya Islami sekali. Selain gadis itu, Lian juga dia sempat mengenalkan gua dengan adiknya Lisa yang dia bilang penasaran ingin berjumpa dengan gua, karena hanya sekali melihat foto yang Lian ambil secara diam-diam. Saat itu Lisa masih unyu-unyu dia masih kelas 1 SMP, gua dikelas 1 SMA.

Tetapi semua perkenalan itu termentahkan saat sms Lian datang menyatakan cinta. Sejak itu gua merasa ada peluang untuk memilikinya, gua tidak ingin terlambat lagi. Tapi kenyataan itu tidak sama dengan apa yang dibayangkan, seperti dalam kepala gua terselip sebuah keyakinan jika Lian dan gua mudah saja menyatu, dia akan meninggalkan yang lain untuk gua. Tapi kenyataan berjalan tidak begitu, siapa yang tahu tentang besok?

Setiap ada kesempatan gua selalu menyempatkan diri untuk bertukar kabar dengan Lian, gua tahu gua salah. Bukan hanya salah mendekati kekasih orang tapi salah karena sudah melanggar ajaran agama yang selama ini gua pelajari. Gua menyadari itu tapi gua lemah masalah hati. Jika ada kesempatan gua pergi menjemput Lian, kami makan malam atau sekedar duduk bersama dengan banyak cerita.

"Memangnya Iwan gatau kalau kita ketemuan?" Gua bertanya pada Lian setiap kali bersama.

"Tau kok," ringan saja jawabannya. Bagaimana perasaan Iwan? Gua tidak mengerti tapi gua terlalu bodoh, hati gua sudah kapalan sehingga mati rasa. Ini jelas bukan cinta hanya sebuah rasa ingin memiliki, cinta itu dulu sudah lama sekali.

"Terus?" Gua seperti meminta kepastian, gua mengemis rasa padanya.

"Terus apa?" Sambil melemparkan senyum manis, padahal gua benar-benar serius.

"Terus gua gimana? kita?" Gua butuh sebuah kejelasan disini.

"Dulu gue emang suka sama lo," Lian membuka kisah,

"Sekarang enggak?" Gua memotong

"Kalau ketemu terus liat lo kaya masih deg-degan gitu, mungkin masih suka. Tapi kalau ketemu doang." Gua sadar betul ternyata Lian memang tidak akan memilih gua. Kalian pasti tahu rasanya jika sudah basah apa yang harus dilakukan? Lanjutkan saja berenangnya. Gua memaksakan perasaan ini yang sebenarnya bukan cinta, cuma rasa kecewa karena tidak terpilih. Gua selalu ingin jadi yang terbaik, hampir selalu sejak kecil gua dapati hasil terbaik. Pujian terbaik jadi ketika gagal gua tidak bisa menerimanya.

"Jadi enggak milih gua nih?" Gua bertanya lagi untuk memastikan.

"Enggak gitu gimana ya? Mama Gue enggak ngerestuin kalau gue sama iwan." Matanya berkerling ke sekeliling buat gua ragu.

"Kenapa?" Tidak ada jawaban setelah pertanyaan ini, gua selalu membawa dia ke warung pojok tempat biasa gua dan teman-teman berkumpul. Disini rasanya nyaman dan tenang. Lian selalu akan mengalihkan pembicaraan setiap kali gua ingin tahu penyebabnya hubungan yang tidak direstui mamanya.

Setiap hari gua berada didepan komputer sejak pukul 06:00 sampai jam 5 sore, karena setelah subuh gua harus membersihkan kantor asrama agar nyaman saat ada tamu yang datang berkunjung untuk menjenguk anaknya atau donatur yang ingin memberikan dana bagi bantuan untuk biaya sekolah anak-anak yang tidak mampu di asrama ini.

Pekerjaan lainnya jika ada surat atau proposal kegiatan yang harus dibuat maka gua akan diperintahkan untuk mengetik atau yang lainnya. Sambil mengerjakannya gua selalu menyempatkan bermain Facebook, menulis kata-kata mutiara yang puitis karena gua begitu mencintai puisi dengan kata-kata indahnya yang romantis. Ada satu akun baru yang meminta pertemanan, dengan nama Lis Sunandar, seperti biasa gua langsung meng-accept.

'hai putra?' Chat kami dimulai,

'maaf ini siapa ya?' gua balik bertanya, gua tidak kenal dengan akun baru tersebut,

'Ini mamanya Lian dan Lisa.' balasannya buat gua kaget,

'maaf ibu, assalamualaikum aku kirain siapa ternyata ibu Lian.' gua jadi salah tingkah meski tidak berjumpa langsung,

'waalaikumsalam, iya gapapa. Katanya kamu sering jalan sama anak-anak mama ya?' Ada apa ini? Kenapa langsung pada pertanyaan ini?

'iya ibu. Ada apa ya Bu?' gua bertanya balik sambil terbersit tanya didada.

'sebenarnya putra mau sama anak ibu yang mana?' apa benar ini akun Mamanya Lisa dan Lian? Gua jadi sedikit ragu dengan pertanyaan ini tapi ada rasa senang tidak terkira karena diberi sebuah pilihan. Ini seperti jadi lampu hijau untuk gua, semuanya akan berjalan baik begitu suara hati gua berbisik.

'enggak sama yang mana-mana Bu, kami cuma teman aja. Kalau lagi ada kesempatan aja jalan sambil cerita-cerita. cuma gitu aja kok bu.' Hei, gua diberi pilihan, ini gila bukan mamanya sendiri yang memberikan pilihan. Tapi gua menghilangkan kesenangan ini karena masih berpikir jika akun tersebut belum tentu benar-benar mamanya Lian dan Lisa.

'oh gitu, putra ada nomor HP?' gua memberikan nomor hp pada mamanya Lian. Setelah itu sempat beberapa kali kami berkirim pesan via Facebook lalu menghilang begitu saja satu sama lain.

Handphone gua berdering, mamanya Lian ada apa ya? Gua agak grogi ingin mengangkatnya,

"halo, assalamualaikum ada apa ibu?" dengan lembut sebisa mungkin gua bertanya,

"Lian lagi jalan sama putra ya?" Mata gua melihat keluar jendela kantor, mencerna kembali pertanyaan Mama Lian. Tidak ada Lian disini, gua harus jawab apa? Kalau gua bilang tidak, gua memang jujur tapi Lian akan kena marah mamanya karena berbohong jalan sama gua, tapi siapa tahu dia memang ingin jalan sama gua cuma belum sampai. Ini tidak biasanya, Lian selalu memberi kabar jika ingin mengajak gua pergi. Kalau gua bilang iya, gua berbohong saat kebohongan ini diketahui maka hilang sudah kepercayaan Mama Lian pada gua.

"Iya Bu, ada apa ya bu?" Gua bertanya balik pada Mama Lian, gua ingin menjaga Lian agar tidak kena marah mamanya. Biarlah gua berbohong kali ini.

"Enggak apa-apa put, tadi ijinnya mau keluar sama Putra. Takutnya perginya bukan sama Putra, soalnya nomornya di telepon ga diangkat-angkat." Ada yang tidak beres rasanya mendengar kalimat ini, setelah basa-basi sesaat telepon terputus.

Mata gua kembali memandang jauh ke jalanan memperhatikan kendaraan yang lalu lalang satu persatu didepan kantor asrama. Kemana Lian? Kenapa dia ijin pergi dengan gua tapi tidak bersama gua sekarang. Gua menekan nomor Lian,

"Halo Lian dimana?"

"Gue lagi di kalibata kenapa put?" Nada suara yang khas yang lembut terdengar diseberang sana,

"Enggak apa-apa gua susul ya?" Gua ingin buat kebohongan gua tadi jadi seperti nyata dengan mengantar Lian pulang, membuat mamanya percaya jika Lian benar pergi bersama gua.

"Enggak usah put. Gue lagi nunggu Iwan, mau beliin dia kado ulang tahun. Ini gue udah beli kue, nah kalau dia Dateng nanti mau gua beliin baju bola tapi gue gapaham jadi tunggu orangnya aja." Petir siang hari ini begitu panas, Lian menggunakan nama gua untuk mendapatkan ijin keluar. Jadi gua ini siapa sebenarnya? Nampaknya cuma kunci untuk keluar masuk rumahnya saja. Gua tidak marah tapi ada kecewa yang jelas menghantam sisi hati gua. Tapi biarlah, gua juga bukan siapa-siapa dalam cerita Lian, tidak jadi masalah!

"Oh gitu, iya keren tuh. Cowo kalau dibeliin baju bola pasti seneng. Ya udah deh." Gua berusaha jadi laki-laki, gau tegar iya gua tegar dalam kebohongan.

"Maaf ya put." Terdengar lagi suara diseberang sana.

"Iya gapapa Lian, titip salam selamat ulang tahun ya ke Iwan." Gua masih bergemuruh didalam tapi tetap tegar dalam melepaskan kata-kata. Siapa gua ini?

Jumat, 30 September 2016

Terjebak Pada Cinta Bodoh!

Perasaan suka cepat berubah tidak seperti edelweis yang abadi. Maka perasaan itu harus dialihkan pada kesibukan lain, perlahan dia akan mulai hilang juga lupa. Cari sesuatu yang menyenangkan agar terhindar dari rasa-rasa yang terus menepuk-nepuk dada agar menyimpan dan mengingatnya selalu.

Sudah hampir 3 tahun gua tidak lagi mengusik kehidupan Lian, melupakan perasaan gua yang sempat terbentuk di awal pertemuan. Seringkali gua melihat Lian dalam tangis mengarungi percintaannya, hanya tersisip rasa tidak tega tanpa bumbu-bumbu rasa cinta. Dia kekasih sahabat, jadi kita hanya akan menjadi teman. Kelulusan yang sudah berlalu setahun yang lalu, membuat gua kehilangan banyak teman. Ada teman yang masuk ke perguruan tinggi melanjutkan menuntut ilmu, banyak juga yang langsung melamar kerja menjadikan mereka masuk dalam dunia dewasa lebih cepat. Pada dunia kerja mereka dilatih untuk bertanggung jawab menghidupi diri sendiri, gua mengagumi itu.

Gua masih terkungkung di asrama membantu pekerjaan kantor pesantren yang bisa gua kerjakan. Disini gua lebih banyak ditugaskan sebagai OB, blnyapu-ngepel kantor pesantren, beli makan siang, menyiapkan kebutuhan kantor, dan lain-lain. Setiap tiga bulan sekali kami di rolling terkadang gua dapat bagian membersihkan kamar mandi santri, bagian dapur masak nasi satu panci besar, mencuci piring, membersihkan ruang makan santri, atau menyapu halaman asrama yang luasnya jika ditotal sama dengan satu lapangan bola kaki.

Pekerjaan tadi sudah biasa gua kerjakan sejak masa SMK, jadi mengerjakannya saat ini tidak masalah. Hari gua jadi sedikit sepi setelah masa sekolah berlalu, jika dulu masih ada kesempatan untuk berjumpa kawan-kawan lalu ketawa dan menghabiskan waktu bersama kini semua hanya masa lalu mereka sibuk dengan hidup masing-masing lalu gua merasa kehilangan.

Pernah pada suatu hari yang sepi, gua merasa sangat kesepian dan butuh refresing. Sejak malam gua berpikir jika besok ingin pergi ke Blok M Square nonton bioskop tapi Tak ada teman. Kebetulan gua mengingat seseorang, ya gadis itu sepertinya cocok menemani hari sepi gua. Beberapa waktu lalu gua mulai akrab dengan Lisa, dia baru lulus SMP dan masuk ke SMK yang sama dengan gua.

'Lisa kakak mau ajak kamu jalan. Kamu mau enggak nemenin?' Malam gua langsung coba menawarinya.

'kemana kak?' balasnya via sms. Hp esia jadul sudah gua gunakan sejak masa SMK walau ada peringatan keras dari pesantren untuk tidak menggunakan handphone tapi jiwa muda memang hobi melanggar aturan.

'Nonton aja yuk, kemana gitu. Kakak pengennya sih ke blok M. Gimana?'

'Boleh kak. Ya udah jam berapa besok?' kami sepakat dengan waktu dan tempat pertemuan.

Gadis manis dengan wajah lucu Lisa, gua hanya ingin pergi bersamanya. Gua tidak bisa jatuh cinta padanya, walau ingin memiliki. Rasa minder dan rendah diri buat gua tidak pernah bisa jadikan gua seperti anak muda lainnya. Bebas bergaul dan mengekspresikan diri, bukan siapa-siapa menjadi alasan kenapa gua tidak memiliki apa-apa dan tidak menjadi apa-apa.

Setelah pergi kemarin gua sedikit tenang dengan menceritakan banyak hal yang menjadikan gua kesepian dalam kesendirian kepada Lisa. Bukan Lisa yang ingin gua sebutkan dalam kisah ini tapi masih tentang Lian. Waktu mulai beranjak seperti biasa setelah mandi pagi pukul 09:00, suara pesan terdengar dari handphone esia butut gua.

'maaf putra kalau gue lancang, tapi kalau gue enggak mengatakan ini ada yang kurang dalam hidup gue. Sebenarnya sejak pertama kita ketemu gue udah suka sama Lo. Tapi Lo nya Enggak sadar. Tapi sekarang gua udah berani ngomong ke Lo. terserah gimana tanggapan Lo ketika dapat pesan ini yang penting gue udah lega karena udah bilang apa yang selama ini tersimpan dalam hati gue. Terimakasih put, maaf kalau gue lancang' Apa benar yang mengirim pesan ini dia? Sulit percaya rasanya tapi nama yang tertera benar dia, Lian! ini nomor Lian.

'Ini Lian beneran yang sms atau siapa?' Gua balas pesan masuk tadi, rasanya seperti mimpi jika memang Lian yang mengirim pesan. Sudah lama, sudah lama sekali kami tidak saling berkirim pesan apalagi bicara. Setiap berjumpa hanya saling menatap tanpa berkata-kata, gua juga tidak mampu mengartikan tatap-tatapan yang datang. Kekasih teman bagaimana mungkin mengatakan hal ini.

'kalau ga percaya coba aja telpon put.' Balasnya lagi, seketika gua langsung menekan tombol telepon.

"Iya halo, putra masih ga percaya kalau Lian yang sms?" Tanya dia dari seberang sana. Tubuh gua bergetar mendengarnya. Suaranya ini buat gua diam tak bersuara, gua ingin menikmati kebodohan ini dulu.

"Lian masih pacaran sama iwan kan?" Tanya gua setelah diam beberapa waktu.

"Masih memangnya kenapa?" Dia bertanya balik. Tidak etis saja jika gua harus mengatakan jika sejak dulu gua juga menyukainya. Lian masih kekasih sahabat gua.

"Enggak apa-apa. Dulu kenapa ga bilang kalau suka?" Gua bertanya lagi, rasanya masih seperti sedang melayang diantara angin-angin senja yang tersisa.

"Lian kan cewe masa Lian duluan yang ngomong. Padahal dulukan Lian sering kasih kode cuma putranya aja ga ngerti. Aturan cowo yang ngomong." Mimpi macam apa ini gua masih belum juga mempercayainya. Kalau memang mimpi tolong bangunkan ya Tuhan...

"Jangan bercanda ah, ini siapa? Gua masih ga percaya." Gua kembali mengintrogasi.

"Ini Lian, Putra! Inget ga dulu putra pernah buatin gambar yang mirip sama Lian. Lian ambil, Lian simpen sampai hari ini masih ada dikamar. Lisa juga cerita banyak tentang Putra, kemarin kalian jalankan ke blok M? Ngapain hayoo." Iya gua lupa mengatakan jika Lisa adalah adik kandung Lian, kami berkenalan saat Lian dan Satri nonton bioskop mengajak Lisa yang tidak memiliki pasangan jadilah Satri mengajak gua untuk menemani Lisa. Sampai hari ini kami masih berhubungan.

"Iya kok masih Lian simpan? Gambarnya kan gabagus-bagus banget." Gua merendah

"Iya tapi Lian suka banget." Jawabnya

"Sama gambarnya apa orang yang gambarnya?" Gua coba memancing Lian.

"Sama dua-duanya." Hati gua terpanah lagi dan lagi. Setelah hari itu kami sering berkirim pesan, ini tidak baik. Ini jelas salah, gua menyadari tapi cinta pertama itu tidak bisa dilupakan, bukan begitu? Sejak pertama memandang gua sudah jatuh hati, bagaimana perasaan Iwan jika mengetahui semua ini? Gua sendiri jika pada posisi Iwan jelas akan marah. Gua ingin menjauhi semua ini tapi gua sangat menikmatinya, gua terjebak! Sial!

BERSAMBUNG.....

Jumat, 23 September 2016

Mencintai Kekasih Teman

Ingatan gua terus berkelebat pada masa lalu di saat hujan masih belum juga reda. Lian masih duduk disisi gua kali ini dia memainkan handphone gua. Membuka game ular slither.io beberapa kali gua ajarkan sayang dia tidak berhasil jauh, lalu membuka game candy crush dan tidak juga menang. Akhirnya gua ambil handphone agar kami bisa berbicara bebas, agar kembali ke suasana cair lagi.

Malam terus berjalan, ada rasa berbeda memang dihati. Taman gua sudah lama kosong jika saja lian mau menyemainya dengan senang hati gua akan menyirami kemudian menjaganya agar tumbuh kembali bunga-bunga indah itu. Sayangnya gua sudah tak mampu lagi sekarang, entah suatu saat nanti?

Ingatan melayang jauh pada 5 tahun yang lalu ketika semakin hari lian, semakin akrab dengan satri. Tapi hati gua tidak pernah berbohong jika gua masih menyimpan hati untuknya. Gua malas menulis catatan, jika ada pelajaran yang diharuskan mencatat, gua lebih memilih untuk menggambar. Saat duduk dimeja sebelah lian, gua melihat wajah gadis sempurna itu lalu menggambarnya secara diam-diam. Maafkan gua satri jika gua masih menaruh hati padanya. Dilain kisah gua sedang mendekati seorang gadis gembul yang manja dan lucu. Dia tidak cantik tapi sangat menarik dimata gua.

Gua sudah tidak mungkin mendapatkan lian yang kini sudah semakin dekat dan hampir pasti menjadi kekasih satri. Gua harus melepas selurub perasaan ini, seluruhnya agar tidak merusak hubungan orang lain. Bagaimana ceritanya jika gua jatuh hati pada kekasih teman? Jika teman tahu maka akan rusak cerita yang kita punya. Gua harus cepat mengosongkan hati dari nama lian. Jangan biarkan namanya lama bersemayam dalam hati, gua takut terlalu dalam menyimpannya dan tidak lagi muncul ke permukaan.

"lu ngapain put?" Tiba-tiba lian mengagetkan gua dengan pertanyaannya, gua hampir menyelesaikan sketsa wajah lian, dia menyadarinya lalu menghampiri gua.

"Mm..  engga gua lagi gambar-gambar aja." Jantung gua berdetak lebih kencang dari biasanya. Kemudian dia mendekati gambar yang sudah selesai dimeja gua.

"Kok mirip gue sih?" Tanya lian.

"enggak kok, gua cuma iseng aja gambar-gambar kaya gini. Kebetulan aja kali mirip." Gua coba ngeles dari kebenaran.

"mirip gue, sini buat gue aja biar gue simpen buat kenang-kenangan." Dia berlalu dari hadapan gua, kembali ke mejanya. Gua melepas begitu saja gambar yang sudah gua buat untuk lian. Sayang engkau kekasih teman.

Hujan mulai reda, malam ini lian banyak bicara dia sudah sedikit berubah sejak masa SMK dulu yang kalem bahkan tergolong pendiam, bicara seperlunya saja tapi kini banyak hal yang dia ungkapkan. Apa semua karena pergaulan serta lingkungan yang merubah dia.

"cowo lu ga diajak kesini biar ngobrol kita disini. Biar kenalan." Gua mencandai lian, lumayan malam ini gua melihat banyak tawa terlempar lepas dari wajah penatnya.

"Iya nanti gua ajak." jawabnya singkat sambil tersenyum.

"Iya kalau dia sampai sini mau gua tanyain kapan putus?" Gua menggoda dia agar sedikit kesal. Dia malah tertawa, dia selalu seperti ini. Menyenangkan. Setelah itu senyap, gua memandang jauh keluar counter hanya ada jalanan yang mulai sepi ditelan malam.

Perlahan gua mencintai amel, gadis gembul yang perlahan menjelma jadi seseorang paling penting dalam hidup gua, sayangnya dia sudah memiliki kekasih. Kami jadi sahabat baik bahkan sangat dekat, banyak waktu kami habiskan bersama. Tapi rangkumannya masih sama, gua masih seorang single tanpa pendamping. Padahal gua sangat ingin memiliki kekasih hanya saja gua minder, siapalah gua? Hanya seorang anak yang masih numpang tinggal di asrama nyambi kerja, gaji hanya cukup untuk bayar bulanan sekolah lalu sisanya untuk belanja sabun cuci, serta perlengkapan mandi saja masih kurang.

Semua teman dekat gua memiliki pacar setiap pulang sekolah, kami duduk bersama di halaman sekolah atau kantin dimana saja dengan pacar masing-masing kecuali gua yang hanya menyaksikan mereka asyik berdua-duaan. Beberapa moment gua berada diantara lian dan satri. Pernah kala itu hujan turun deras gua, satri, dan lian sedang bersama. Kemudian lian tiba-tiba meminjam jaket gua bukan jaket satri gua hanya menganggap jika itu hal yang wajar. Gua juga pernah bersama satri mengantar lian pulang, ketika turun dari angkot hujan deras turun kami basah kuyup dibuatnya. Ketika selesai mengantar sampai rumah lian, kami langsung kembali pulang namun tidak satupun angkot yang mau menerima kami, jadilah gua dan satri jalan kaki dari cawang atas sampai ke otista dengan pakaian kuyup.

Sempat juga suatu ketika lian melihat sebuah buku yang gua baca, dia langsung meminjamnya lalu dibawa pulang. Dia juga pernah berpura-pura bertanya tentang pelajaran matematika yang sebenarnya dia tahu jika gua tidak mengerti tentang pelajaran itu. Banyak moment bersama lian yang gua kenang, sampai saat yang tidak pernah gua sangka datang. Pada kisah ini satri dan lian menyelesaikan hubungan mereka, gua tidak mengerti cinta sebenarnya seperti apa? gua juga tidak paham tentang cinta yang mereka rasakan karena hati gua sudah kapalan sehingga mati rasa. Kalaupun ada rasa hanya rasa ingin mencoba apa itu cinta! Ketika menyukai seseorang lalu ingin memiliki seperti beberapa kali gua rasakan mungkinkah itu cinta?

Setelah hubungan mereka selesai, gua masih tidak terfikir untuk memiliki lian. Dia masih terlampau cantik lalu siapalah gua? Masih seorang santri yang mengabdi dengan gaji untuk bayaran sekolah. Gua tidak bisa menghadiahkan coklat mewah seperti yang lainnya. Itulah mengapa gua tetap sendiri, gua tidak punya apapun untuk memberikan kebahagiaan kepada pasangan gua seperti layaknya laki-laki lain.

Keterlambatan gua bukan hanya karena kemelaratan gua tapi juga karena lian mantan kekasih sahabat gua apa yang akan terjadi jika gua memaksakan diri untuk memilikinya? Persahabatan gua akan berantakan nantinya. Keterlambatan itu berakibat fatal, lian dipetik lagi oleh orang lain kali ini, oleh sahabat sekelas gua yang berhasil memenangkan hatinya. Iwan menjadi pria beruntung karena berhasil mengisi sisi kosong pada ruang hati lian yang hancur setelah hubungannya dengan satri berakhir karena sebuah masalah yang gua tidak tahu, yang pasti ada kekesalan dihati satri saat itu. Dan gua gagal lagi tembok ini akan jadi terlalu tinggi untuk gua menggapai lian, dua sahabat yang harus gua panjat untuk sampai pada lian ini terlalu tinggi jika jatuh semua akan rusak sekejap.